Chapter 1
Title : You are the music in Me
Author : Aishika
Cast : Lindsay Lee (OC)
Park Chanyeol
Kim Joonmyeon
Seo Nayoung (OC)
Lindsay POV
Aku mengelus pelan pusara putih
dimana terukir nama ‘ Lucia Lee ‘ diatasnya. Lucia Lee adalah nama mendiang
ibuku. Tiga bulan lalu ibuku meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan.
Sebenarnya aku juga turut mengalami kecelakaan itu. Aku tidak sempat menghadiri
pemakaman ibuku karena saat itu keadaanku tidak memungkinkan. Aku mengalami
koma selama 4 hari, sementara jenazah ibuku dibawa ke Seoul untuk dimakamkan di
negeri kelahirannya ini. Sementara aku terbaring lemah dan tidak sadarkan diri ketika
seluruh keluarga dan kerabat dekatku berdiri disini berduka untuk ibuku. Sudah
dua minggu lamanya aku berada di Seoul, namun inilah pertama kalinya aku
mengunjungi makam ibuku. Aku mempersiapkan diriku untuk menghadap ibuku.
Sejujurnya aku masih berasa bersalah, sangat bersalah lebih tepatnya. Malam
itu, ketika kecelakaan terjadi aku berada satu mobil dengan ibuku. Aku memaksa
ibu menjemputku di studio balet karena hujan deras yang tiada hentinya.
Sepanjang jalan aku mengoceh karena ibuku telat dan merasa ibu mengabaikankan
karena kesibukannya dengan pekerjaannya hingga kecelakaan itu terjadi. Ban
mobil kami tergelincir dikarenakan licinnya jalanan dimalam dengan hujan deras
itu. Aku tidak ingat detail kejadiannya, yang terbayang hanyalah mobil yang
dikendarai ibu oleng dan sempat berputar sebelum akhirnya aku merasakan seluruh
badanku sakit dan posisi kepalaku dibawah, kurasa saat itu mobil yang kami
kendarai pastilah terbalik. Mengingat kejadian yang terus terbayang samar
diingatanku itu sungguh menyakitkan.
“ I apologize
for every mistake who I make mom “ ucapku pelan sambil merapikan letak buket
bunga lili putih yang kubawa diatas pusara ibuku. “ Today, my first day at my
new school. Wish me luck mom, I miss you so much “ aku menahan air mata yang
sudah akan menetes. Kudongakkan kepalaku mencegah agar air mata itu tidak
jatuh. Suara ponsel mengusik suasana sedihku,
aku merogoh saku blazerku. Ponselku berpendar dan dilayar tertera ‘ oppa
calling’. Oppa, ya tentu saja yang menelpon ini adalah kakakku.
“ Yeoboseyo “ jawabku
setelah lebih dulu menetralkan suaraku.
“ Where are you
actually right now, miss Lee !!!” aku menjauhkan ponselku begitu mendengar
suaranya
yang sedikit berteriak itu. Aku tidak heran, ia pasti panic karena aku tidak berada diapartemen sepagi ini. Karena semalam ia menginap diapartemenku.
yang sedikit berteriak itu. Aku tidak heran, ia pasti panic karena aku tidak berada diapartemen sepagi ini. Karena semalam ia menginap diapartemenku.
“ Aku berangkat
kesekolah oppa “.
“ Mwo, yaa..
sudah oppa bilang bukan supir bisa mengantarmu kesekolah Lin-ya “.
“ Gwechanha,
aku.. aku ingin berpamitan pada mommy dihari pertamaku bersekolah oppa “
ucapku. Tidak terdengar suara diseberang sana. “ Oppa.. you still there ?”.
“ Lain kali
beritahu oppa kalau kamu mau pergi, jangan pergi diam-diam begitu Lin-ya “.
“ Hehehe..
mianhae, lain kali aku akan memberitahu oppa “.
“ Jangan sampai
telat sampai disekolah ne, ini hari pertamamu “.
“ Ne oppa,
jangan khawatir “ sahutku. “ Oh iya, oppa tidak melupakan sesuatu bukan ?”.
“ Apa ?”.
“ Perjanjian
yang kita bicarakan semalam “ aku mengingatkan.
“ Ne, ne, oppa
ingat, so childish “.
“ Cckk.. kalau
oppa tidak mau lebih baik aku kembali ke Kanada dan tinggal sendiri disana “
rajukku.
“ Arra.. aigoo..
sudah pintar mengancam ternyata “.
“ Hehehe..
geureh, aku harus segera kesekolah “.
“ Ne, josimhae
“.
“ You too oppa,
keuno “.
“ Ne, annyeong
“. Aku memasukkan kembali ponsel ke saku blazerku setelah mengakhiri panggilan
dengan oppaku. “ Mom, I have to go now, aku akan berkunjung lagi nanti,
annyeong “ ucapku sambil mengelus kembali pusara putih itu dan berdiri untuk
segera beranjak menuju kesekolah baruku.
Chanyeol POV
Aku berdiri menyender pada tiang
halte bus, angka pada arloji digitalku sudah menunjukkan pukul 07.10 tapi bus
tak kunjung tiba. Aku membetulkan letak kacamataku yang sedikit merosot saat
aku menunduk. Aku menoleh kesamping kananku, sebenarnya aku agak risih. Sedari
tadi dua orang murid berseragam SMP yang berdiri hanya beberapa meter dariku
terus saja memandangiku sambil berceloteh dengan temannya. Apa ada yang salah
denganku, apa penampilanku aneh hari ini. Atau mungkin ada cabe di gigiku, tapi
aku tidak makan makanan pedas pagi ini. Atau mungkin ada kotoran dimataku,
dengan segera aku mengecek selah-selah mataku. Tidak ada kotoran, lalu kenapa
mereka berceloteh dan cekikikan sendiri, aneh.
“ Permisi.. op..
pa “ kedua murid SMP itu mendekatiku.
“ N..ne ?”
kataku canggung.
“ Apa oppa..
Park Chanyeol, model music video girlband Girls itu ?” tanya salah satu gadis
dengan name tag Hong Eunmi.
“ Ne ?” kagetku.
Bagaimana mereka bisa mengenaliku secepat itu. Beberapa waktu lalu aku memang
membintangi sebuah music video milik seniorku di agency tempatku bernaung.
Yahh.. sebenarnya agency itu milik pamanku. Aku bisa menjadi trainee disana
setelah pamanku bertemu denganku begitu aku datang dari Jepang. Aku sebenarnya
tidak terlalu memiliki obsesi menjadi idol, aku lebih ingin menjadi pemusik.
Namun karena ibuku terus mendorong bahkan terkesan memaksa maka mau tidak mau
aku menerimanya. Satu tahun setengah lamanya aku menjadi trainee tiba-tiba aku
diminta menjadi model untuk music video seniorku, girlband Girls yang sangat
terkenal itu. Kupikir hanya teman-teman sekolah saja yang mengetahuinya,
ternyata murid SMP seperti merekapun tahu.
“ Benarkan, oppa
model video klip itu, Park Chanyeol ?”.
“ Maaf, aku
tidak mengerti yang kalian bicarakan “ ucapku pura-pura tiak mengerti dengan
memasang wajah polosku, padahal aku sudah memakai kaca mata begini tetap saja
mereka bisa mengenaliku.
“ Jinja, tapi
oppa mirip sekali dengannya “ katanya sambil memandangiku dengan teliti..
“ Kurasa kamu
salah orang “.
“ Aneh ya,
padahal mirip sekali “ mereka kembali ke tempat mereka;p diseberangku. Aku bisa
bernafas lega ternyata mereka bisa diperdaya. Dan yang membuatku semakin bisa
bernafas lega adalah bus yang sudah muncul. Kulihat dua gadis tadi dengan
semangat segera menghampiri bus begitu bus sudah berhenti dihalte. Maka aku
memutuskan untuk masuk paling akhir. Didepanku masih ada kira-kira lima orang
yang mengantri masuk. Saat itulah aku mendengar derap kaki dari arah kananku,
aku menoleh dan mendapati seorang gadis yang memakai seragam sekolah sama
denganku tengah berlari kearah halte. Ia pastilah takut ketinggalan bus. Aku
melangkahkan kakiku menaiki bus, suara derap kaki gadis itu tidak terdengar
maka aku menjulurkan badanku keluar pintu bus dan disana kulihat ia tengah
membungkuk sedikit dengan nafas ngos-ngosan sambil memijit pelan betis
kanannya.
“ Yaaa.. ppaliwa
!!!” seruku. Bagaimanapun ia adalah teman sekolahku, dan ia juga seorang
perempuan masa aku tega membiarkan ia tertinggal bus. Ia mengangkat wajahnya
yang tertutup poni dan kembali berlari. Tiba-tiba saja pintu bus akan tertutup
dan ada sedikit pergerakan, apa busnya akan berjalan.
“ Ahjussi
chakkaman !!” seruku. Aku mengulurkan tanganku keluar pintu bus yang hampir
menutup, aku merasakan s eseorang menyambut uluran tanganku. Pintu bus terbuka
dan aku menarik pelan sipemilik tangan. Pintu bus menutup tak lama setelah ia
naik dan kami masih terdiam di pintu masuk. Aku bisa merasakan nafasnya menderu
menerpa bahuku. Bahkan aku merasa tulang hidung mancungnya itu membentur bahuku
tadi. Ia menarik dirinya agak menjauh dariku. Gadis itu memakai kaca mata
berbingkai coklat, ia mengepang samping rambutnya dan memakai poni depan.
“ Gamsahamnida “
ucanya tanpa membuat kontak mata denganku, ia menunduk sebagai pengganti
bungkukan. Menari pelan tangannya dari genggamanku dan berjalan mencari tempat
duduk. Tetapi sepertinya kami sedang tidak beruntung karena tempat duduknya
penuh maka mau tidak mau kami harus berdiri. Ia mengipas pelan, pastilah
sekarang ia merasa gerah dan kepanasan karena berlari tadi. Ia bersekolah di
sekolah yang sama denganku, seragam kami sama. Tetapi kenapa sepertinya
wajahnya asing. Aku mengedikkan bahuku pelan lalu mengalihkan pandangku kearah
luar jendela bus. Memandangi pemandangan yang sama setiap harinya. Kupasang headset
ditelingaku untuk menghilangkan kebosanan selama perjalanan kesekolah.
Author POV
Bus berhenti di halte yang tidak
jauh dari sekolah, Chanyeol keluar lebih dulu dari dalam bus. Ia berjalan
ringan sambil sesekali mendendangkan lagu yang sedang ia dengar. Ia
menghentikan langkahnya didepan gerbang megah dengan gapura nan kokoh dimana
terukir dengan tinta emas ‘Genie School’. Chanyeol menyibak lengan blazernya
untuk melihat jam.
“ Sudah jam
setengah delapan ternyata “ gumamnya.
JDUKKK !!!
Chanyeol merasa sesuatu mengenai punggungnya hingga membuat ia terdorong sedikit
kedepan. Chanyeo berbalik dan mendapati gadis yang tadi ia tolong saat di bus.
Ia mengusap pelan dahinya.
“ Jeosonghamnida
“ ucanya pelan.
“ Gwechanha,
salahku juga berdiri membelakangimu “.
“ Aku yang salah
karena jalan tidak melihatmu, tadi aku berjalan sambil sibuk dengan ponselku “
ia masih belum membuat kontak mataku malah bersungut dengan ponselnya.
“ Gwechanha,
lagipula gerbangnya sudah ditutup “.
“ Ne ?” ia
menegakkan kepalanya dan memandangku. Aku bisa melihat bola mata membulat
dibalik kaca mata dengan frame persegi itu. Ia mengalihkan pandangannya kearah
gerbang nan kokoh yang bergeming didepan kami. “ Eottokhae “.
“ Mau bagaimana
lagi “ kataku sambil mengedikkan bahu.
“ Tapi ini hari
pertamaku bersekolah “.
“ Jinja, pantas
saja wajahmu terasa asing ternyata kamu
murid baru “ sahutku. Ia tidak terlalu menanggapi omonganku, kembali berkutat
dengan handphonenya. “ Siapa yang kamu telpon ?”.
“ Oppaku “.
“ Oppamu
bersekolah disini ?”.
“ Presiden
sekolah ini teman dekat oppaku “ jawbanya.
“ Presiden
sekolah ?” gumamku. “ Suho sunbaenim ?”.
“ Yeoboseyo oppa
“.
“…”.
“ Aku sedang
tidak dikelas, bagaimana aku bisa menelpon kalau aku dikelas oppa “.
“…”.
“ Aku telat
oppa, eottokhae, tadi aku sulit menemukan halte, mianhae “.
“…”.
“ Ne, ne aku
akan menunggu, ne oppa aku masih didepan gerbang, arraseo “.
“ Bagaimana ?”
tanyaku padanya setelah ia menurup telponnya.
“ Teman oppaku
akan menjemputku “.
“ Suho sunbaenim
?”.
“ Bukan,
Joonmyeon sunbae “ jawabnya sambil menggeleng dan aku tertawa kecil. “ Kenapa
tertawa, apa ada yang lucu ?”.
“ Suho sunbae
dan Joonmyeon sunbae itu orang yang sama “ jawabku. “ Suho itu panggilan akrab
Suho sunbae “.
“ Apa kamu akrab
dengan Joonmyeon sunbae ?”.
“ Hmmm.. lumayan
“ anggukku. “ Oh iya, aku Park Chanyeol “ aku mengulurkan tangan. Ia memandang
uluran tanganku sebentar lalu menyambutnya.
“ Aku.. “.
Krieetttt…. Kami
mengalihkan pandangan disaat yang bersamaan, pintu gerbang terbuka perlahan dan
muncullah sosok yang tidak asing dimataku. Sosok yang selalu tersenyum
bijaksana, ia memakai seragam yang sama denganku hanya saja ada pin emas
berbentuk bintang dengan ukiran huruf G ditengahnya yang menjadi lambang
kedudukannya sebagai persiden sekolah.
“ Sampai kapan
kalian akan berjabat tangan ?” tanyanya yang kini sudah mengalihkan
pandangannya kearah tanganku dan gadis didepanku itu yang masih saling
berjabat. Gadis itu melepaskan jabatan tangan kami tanpa mengucapkan namanya.
“ Annyeong haseo
sunbae “.
“ Ne “ sahutnya
dengan senyuman.
“ Maaf
merepotkan sunbae, jeongmal jeosonghamnida “.
“ Gwechanha, aku
juga awalnya kaget karena oppamu jarang sekali minta tolong padaku “.
“ Jeosonghamnida
“.
“ Gwechanha,
yaa.. Park Chanyeol apa kamu telat lagi hmm ?” tanyanya padaku.
“ Hehehe..
jeosonghaeyo sunbaenim “ ucapku sambil membungkuk 90 derajat.
“ Aigoo.
Sudahlah ayo masuk saja “ suruhnya.
“ Gomapta
sunbaenim “ cengirku. Aku mengikuti Suho sunbae masuk bersama gadis itu. Ia
tidak memakai name tag sama sepertiku. Jadi aku tidak tahu siapa namanya. Apa
ia melupakan name tagnya sama sepertiku, aku selalu lupa memakai name tagku. “
Sunbaenim, aku ke kelas dulu ya “.
“ Bersama saja
Chanyeol-ah, kalian sekelas “ jawabnya.
“ Jeongmalyo ?”.
“ Hmm “ angguk
Suho sunbae. Gadis itu tidak banyak bicara, aku melihatnya sesekali melemaskan
otot kaki kanannya. Apa berlari seperti itu benar-benar melelahkan baginya,
atau mungkin karena ia harus berdiri tadi dibus maka pegalnya jadi dua kali
lipat, mungkin saja.
Lindsay POV
Menjadi murid baru adalah hal
yang paling tidak menyenangkan. Ini kedua kalinya aku mengalami masa menjadi
murid baru. Sebelumnya aku pernah merasakannya ketika harus pindah dari China
ke Kanada diusiaku 10 tahun. Aku masih berdiri didepan pintu, tepat disamping
Joonmyeon sunbae yang sedang berbicara dengan sonsaengnim tentang
keterlambatanku. Lelaki bernama Park Chanyeol tadi sudah masuk lewat pintu
belakang begitu Joonmyeon sunbae sibuk berbicara dengan sonsaengnim, ia
mengambil kesempatan agar tidak terkena omelan sonsaengnim, itulah perkiraanku.
“ Arraseo, mari
masuk Lindsay-ssi “ ujar sonsaengnim. Aku membungkuk kecil pada sonsaengnim.
“ Gamsahamnida
sunbae “ ucapku sebelum masuk kedalam kelas.
“ Ne “ sahutnya.
“ Anak-anak hari
ini kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan dirimu “ aku mengangguk.
Menarik nafas pelan dan mengedarkan pandanganku pada wajah-wajah teman-teman
sekelas baruku.
“ Annyeong
haseo, choneun Lindsay Lee imnida “ ucapku. “ Manaso bangapta “.
“ Dialeknya
tidak seperti orang Korea “.
“ Ne, apa dia
dari luar negeri ?” celoteh mereka.
“ Ne, Lindsay
Lee ini murid pindahan dari Kanada “.
“ Ohhh !!!”
mereka hanya ber’oh’ ria menanggapinya.
“ Lindsay-ssi,
kamu bisa duduk disebelah Seo Nayoung “ seorang gadis berkuncir mengangkat
tangannya agar aku bisa mengenalinya. Aku mengangguk pada sonsaengnim dan
berjalan menghampiri teman sebangkuku. Mataku menangkap cengiran dari lelaki
yang tidak asing, lelaki yang baru saja kukenal pagi ini Park Chanyeol. Ia
duduk dibarisan yang sama denganku. Diurutan paling belakang dekat pinggir. Dan
tampaknya ia tidak memiliki teman duduk.
“ Annyeong “
sapa gadis dengan name tag Seo Nayoung itu padaku.
“ Ne, annyeong
Nayoung-ssi “.
“ Aigoo.. jangan
terlalu formal, panggil saja aku Nayoung-ah, karena kita sebangku maka kita
teman “ ia mengulurkan tangannya. Hari ini sudah dua orang yang mengulurkan
tangannya padaku.
“ Ne, chingu-ieo
“ sambutku dengan senyuman. Setidaknya
hari pertamaku tidak sepenuhnya buruk, ditolong presiden sekolah dan
mendapatkan teman sebangku yang ramah seperti Nayoung. Dan satu lagi, aku
menolehkan kepalaku kebelakang. Namja bernama Park Chanyeol itu tengah berkutat
dengan pensil ditangannya. Entah apa yang didapatnya dari memainkan pensil
seperti anak kecil begitu.
tbc...
No comments:
Post a Comment