Pages

Tuesday, 10 September 2013

You are the music in Me


Chapter 1

Title                       : You are the music in Me
Author                  : Aishika
Cast                       : Lindsay Lee (OC)
                               Park Chanyeol
                               Kim Joonmyeon
                               Seo Nayoung (OC)

Lindsay  POV
                Aku mengelus pelan pusara putih dimana terukir nama ‘ Lucia Lee ‘ diatasnya. Lucia Lee adalah nama mendiang ibuku. Tiga bulan lalu ibuku meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Sebenarnya aku juga turut mengalami kecelakaan itu. Aku tidak sempat menghadiri pemakaman ibuku karena saat itu keadaanku tidak memungkinkan. Aku mengalami koma selama 4 hari, sementara jenazah ibuku dibawa ke Seoul untuk dimakamkan di negeri kelahirannya ini. Sementara aku terbaring lemah dan tidak sadarkan diri ketika seluruh keluarga dan kerabat dekatku berdiri disini berduka untuk ibuku. Sudah dua minggu lamanya aku berada di Seoul, namun inilah pertama kalinya aku mengunjungi makam ibuku. Aku mempersiapkan diriku untuk menghadap ibuku. Sejujurnya aku masih berasa bersalah, sangat bersalah lebih tepatnya. Malam itu, ketika kecelakaan terjadi aku berada satu mobil dengan ibuku. Aku memaksa ibu menjemputku di studio balet karena hujan deras yang tiada hentinya. Sepanjang jalan aku mengoceh karena ibuku telat dan merasa ibu mengabaikankan karena kesibukannya dengan pekerjaannya hingga kecelakaan itu terjadi. Ban mobil kami tergelincir dikarenakan licinnya jalanan dimalam dengan hujan deras itu. Aku tidak ingat detail kejadiannya, yang terbayang hanyalah mobil yang dikendarai ibu oleng dan sempat berputar sebelum akhirnya aku merasakan seluruh badanku sakit dan posisi kepalaku dibawah, kurasa saat itu mobil yang kami kendarai pastilah terbalik. Mengingat kejadian yang terus terbayang samar diingatanku itu sungguh menyakitkan.
“ I apologize for every mistake who I make mom “ ucapku pelan sambil merapikan letak buket bunga lili putih yang kubawa diatas pusara ibuku. “ Today, my first day at my new school. Wish me luck mom, I miss you so much “ aku menahan air mata yang sudah akan menetes. Kudongakkan kepalaku mencegah agar air mata itu tidak jatuh.  Suara ponsel mengusik suasana sedihku, aku merogoh saku blazerku. Ponselku berpendar dan dilayar tertera ‘ oppa calling’. Oppa, ya tentu saja yang menelpon ini adalah kakakku.
“ Yeoboseyo “ jawabku setelah lebih dulu menetralkan suaraku.
“ Where are you actually right now, miss Lee !!!” aku menjauhkan ponselku begitu mendengar suaranya
yang sedikit berteriak itu. Aku tidak heran, ia pasti panic karena aku tidak berada diapartemen sepagi ini. Karena semalam ia menginap diapartemenku.
“ Aku berangkat kesekolah oppa “.
“ Mwo, yaa.. sudah oppa bilang bukan supir bisa mengantarmu kesekolah Lin-ya “.
“ Gwechanha, aku.. aku ingin berpamitan pada mommy dihari pertamaku bersekolah oppa “ ucapku. Tidak terdengar suara diseberang sana. “ Oppa.. you still there ?”.
“ Lain kali beritahu oppa kalau kamu mau pergi, jangan pergi diam-diam begitu Lin-ya “.
“ Hehehe.. mianhae, lain kali aku akan memberitahu oppa “.
“ Jangan sampai telat sampai disekolah ne, ini hari pertamamu “.
“ Ne oppa, jangan khawatir “ sahutku. “ Oh iya, oppa tidak melupakan sesuatu bukan ?”.
“ Apa ?”.
“ Perjanjian yang kita bicarakan semalam “ aku mengingatkan.
“ Ne, ne, oppa ingat, so childish “.
“ Cckk.. kalau oppa tidak mau lebih baik aku kembali ke Kanada dan tinggal sendiri disana “ rajukku.
“ Arra.. aigoo.. sudah pintar mengancam ternyata “.
“ Hehehe.. geureh, aku harus segera kesekolah “.
“ Ne, josimhae “.
“ You too oppa, keuno “.
“ Ne, annyeong “. Aku memasukkan kembali ponsel ke saku blazerku setelah mengakhiri panggilan dengan oppaku. “ Mom, I have to go now, aku akan berkunjung lagi nanti, annyeong “ ucapku sambil mengelus kembali pusara putih itu dan berdiri untuk segera beranjak menuju kesekolah baruku.

Chanyeol POV
                Aku berdiri menyender pada tiang halte bus, angka pada arloji digitalku sudah menunjukkan pukul 07.10 tapi bus tak kunjung tiba. Aku membetulkan letak kacamataku yang sedikit merosot saat aku menunduk. Aku menoleh kesamping kananku, sebenarnya aku agak risih. Sedari tadi dua orang murid berseragam SMP yang berdiri hanya beberapa meter dariku terus saja memandangiku sambil berceloteh dengan temannya. Apa ada yang salah denganku, apa penampilanku aneh hari ini. Atau mungkin ada cabe di gigiku, tapi aku tidak makan makanan pedas pagi ini. Atau mungkin ada kotoran dimataku, dengan segera aku mengecek selah-selah mataku. Tidak ada kotoran, lalu kenapa mereka berceloteh dan cekikikan sendiri, aneh.
“ Permisi.. op.. pa “ kedua murid SMP itu mendekatiku.
“ N..ne ?” kataku canggung.
“ Apa oppa.. Park Chanyeol, model music video girlband Girls itu ?” tanya salah satu gadis dengan name tag Hong Eunmi.
“ Ne ?” kagetku. Bagaimana mereka bisa mengenaliku secepat itu. Beberapa waktu lalu aku memang membintangi sebuah music video milik seniorku di agency tempatku bernaung. Yahh.. sebenarnya agency itu milik pamanku. Aku bisa menjadi trainee disana setelah pamanku bertemu denganku begitu aku datang dari Jepang. Aku sebenarnya tidak terlalu memiliki obsesi menjadi idol, aku lebih ingin menjadi pemusik. Namun karena ibuku terus mendorong bahkan terkesan memaksa maka mau tidak mau aku menerimanya. Satu tahun setengah lamanya aku menjadi trainee tiba-tiba aku diminta menjadi model untuk music video seniorku, girlband Girls yang sangat terkenal itu. Kupikir hanya teman-teman sekolah saja yang mengetahuinya, ternyata murid SMP seperti merekapun tahu.
“ Benarkan, oppa model video klip itu, Park Chanyeol ?”.
“ Maaf, aku tidak mengerti yang kalian bicarakan “ ucapku pura-pura tiak mengerti dengan memasang wajah polosku, padahal aku sudah memakai kaca mata begini tetap saja mereka bisa mengenaliku.
“ Jinja, tapi oppa mirip sekali dengannya “ katanya sambil memandangiku dengan teliti..
“ Kurasa kamu salah orang “.
“ Aneh ya, padahal mirip sekali “ mereka kembali ke tempat mereka;p diseberangku. Aku bisa bernafas lega ternyata mereka bisa diperdaya. Dan yang membuatku semakin bisa bernafas lega adalah bus yang sudah muncul. Kulihat dua gadis tadi dengan semangat segera menghampiri bus begitu bus sudah berhenti dihalte. Maka aku memutuskan untuk masuk paling akhir. Didepanku masih ada kira-kira lima orang yang mengantri masuk. Saat itulah aku mendengar derap kaki dari arah kananku, aku menoleh dan mendapati seorang gadis yang memakai seragam sekolah sama denganku tengah berlari kearah halte. Ia pastilah takut ketinggalan bus. Aku melangkahkan kakiku menaiki bus, suara derap kaki gadis itu tidak terdengar maka aku menjulurkan badanku keluar pintu bus dan disana kulihat ia tengah membungkuk sedikit dengan nafas ngos-ngosan sambil memijit pelan betis kanannya.
“ Yaaa.. ppaliwa !!!” seruku. Bagaimanapun ia adalah teman sekolahku, dan ia juga seorang perempuan masa aku tega membiarkan ia tertinggal bus. Ia mengangkat wajahnya yang tertutup poni dan kembali berlari. Tiba-tiba saja pintu bus akan tertutup dan ada sedikit pergerakan, apa busnya akan berjalan.
“ Ahjussi chakkaman !!” seruku. Aku mengulurkan tanganku keluar pintu bus yang hampir menutup, aku merasakan s eseorang menyambut uluran tanganku. Pintu bus terbuka dan aku menarik pelan sipemilik tangan. Pintu bus menutup tak lama setelah ia naik dan kami masih terdiam di pintu masuk. Aku bisa merasakan nafasnya menderu menerpa bahuku. Bahkan aku merasa tulang hidung mancungnya itu membentur bahuku tadi. Ia menarik dirinya agak menjauh dariku. Gadis itu memakai kaca mata berbingkai coklat, ia mengepang samping rambutnya dan memakai poni depan.
“ Gamsahamnida “ ucanya tanpa membuat kontak mata denganku, ia menunduk sebagai pengganti bungkukan. Menari pelan tangannya dari genggamanku dan berjalan mencari tempat duduk. Tetapi sepertinya kami sedang tidak beruntung karena tempat duduknya penuh maka mau tidak mau kami harus berdiri. Ia mengipas pelan, pastilah sekarang ia merasa gerah dan kepanasan karena berlari tadi. Ia bersekolah di sekolah yang sama denganku, seragam kami sama. Tetapi kenapa sepertinya wajahnya asing. Aku mengedikkan bahuku pelan lalu mengalihkan pandangku kearah luar jendela bus. Memandangi pemandangan yang sama setiap harinya. Kupasang headset ditelingaku untuk menghilangkan kebosanan selama perjalanan kesekolah.

Author POV
                Bus berhenti di halte yang tidak jauh dari sekolah, Chanyeol keluar lebih dulu dari dalam bus. Ia berjalan ringan sambil sesekali mendendangkan lagu yang sedang ia dengar. Ia menghentikan langkahnya didepan gerbang megah dengan gapura nan kokoh dimana terukir dengan tinta emas ‘Genie School’. Chanyeol menyibak lengan blazernya untuk melihat jam.
“ Sudah jam setengah delapan ternyata “ gumamnya.
JDUKKK !!! Chanyeol merasa sesuatu mengenai punggungnya hingga membuat ia terdorong sedikit kedepan. Chanyeo berbalik dan mendapati gadis yang tadi ia tolong saat di bus. Ia mengusap pelan dahinya.
“ Jeosonghamnida “ ucanya pelan.
“ Gwechanha, salahku juga berdiri membelakangimu “.
“ Aku yang salah karena jalan tidak melihatmu, tadi aku berjalan sambil sibuk dengan ponselku “ ia masih belum membuat kontak mataku malah bersungut dengan ponselnya.
“ Gwechanha, lagipula gerbangnya sudah ditutup “.
“ Ne ?” ia menegakkan kepalanya dan memandangku. Aku bisa melihat bola mata membulat dibalik kaca mata dengan frame persegi itu. Ia mengalihkan pandangannya kearah gerbang nan kokoh yang bergeming didepan kami. “ Eottokhae “.
“ Mau bagaimana lagi “ kataku sambil mengedikkan bahu.
“ Tapi ini hari pertamaku bersekolah “.
“ Jinja, pantas saja  wajahmu terasa asing ternyata kamu murid baru “ sahutku. Ia tidak terlalu menanggapi omonganku, kembali berkutat dengan handphonenya. “ Siapa yang kamu telpon ?”.
“ Oppaku “.
“ Oppamu bersekolah disini ?”.
“ Presiden sekolah ini teman dekat oppaku “ jawbanya.
“ Presiden sekolah ?” gumamku. “ Suho sunbaenim ?”.
“ Yeoboseyo oppa “.
“…”.
“ Aku sedang tidak dikelas, bagaimana aku bisa menelpon kalau aku dikelas oppa “.
“…”.
“ Aku telat oppa, eottokhae, tadi aku sulit menemukan halte, mianhae “.
“…”.
“ Ne, ne aku akan menunggu, ne oppa aku masih didepan gerbang, arraseo “.
“ Bagaimana ?” tanyaku padanya setelah ia menurup telponnya.
“ Teman oppaku akan menjemputku “.
“ Suho sunbaenim ?”.
“ Bukan, Joonmyeon sunbae “ jawabnya sambil menggeleng dan aku tertawa kecil. “ Kenapa tertawa, apa ada yang lucu ?”.
“ Suho sunbae dan Joonmyeon sunbae itu orang yang sama “ jawabku. “ Suho itu panggilan akrab Suho sunbae “.
“ Apa kamu akrab dengan Joonmyeon sunbae ?”.
“ Hmmm.. lumayan “ anggukku. “ Oh iya, aku Park Chanyeol “ aku mengulurkan tangan. Ia memandang uluran tanganku sebentar lalu menyambutnya.
“ Aku.. “.
Krieetttt…. Kami mengalihkan pandangan disaat yang bersamaan, pintu gerbang terbuka perlahan dan muncullah sosok yang tidak asing dimataku. Sosok yang selalu tersenyum bijaksana, ia memakai seragam yang sama denganku hanya saja ada pin emas berbentuk bintang dengan ukiran huruf G ditengahnya yang menjadi lambang kedudukannya sebagai persiden sekolah.
“ Sampai kapan kalian akan berjabat tangan ?” tanyanya yang kini sudah mengalihkan pandangannya kearah tanganku dan gadis didepanku itu yang masih saling berjabat. Gadis itu melepaskan jabatan tangan kami tanpa mengucapkan namanya.
“ Annyeong haseo sunbae “.
“ Ne “ sahutnya dengan senyuman.
“ Maaf merepotkan sunbae, jeongmal jeosonghamnida “.
“ Gwechanha, aku juga awalnya kaget karena oppamu jarang sekali minta tolong padaku “.
“ Jeosonghamnida “.
“ Gwechanha, yaa.. Park Chanyeol apa kamu telat lagi hmm ?” tanyanya padaku.
“ Hehehe.. jeosonghaeyo sunbaenim “ ucapku sambil membungkuk 90 derajat.
“ Aigoo. Sudahlah ayo masuk saja “ suruhnya.
“ Gomapta sunbaenim “ cengirku. Aku mengikuti Suho sunbae masuk bersama gadis itu. Ia tidak memakai name tag sama sepertiku. Jadi aku tidak tahu siapa namanya. Apa ia melupakan name tagnya sama sepertiku, aku selalu lupa memakai name tagku. “ Sunbaenim, aku ke kelas dulu ya “.
“ Bersama saja Chanyeol-ah, kalian sekelas “ jawabnya.
“ Jeongmalyo ?”.
“ Hmm “ angguk Suho sunbae. Gadis itu tidak banyak bicara, aku melihatnya sesekali melemaskan otot kaki kanannya. Apa berlari seperti itu benar-benar melelahkan baginya, atau mungkin karena ia harus berdiri tadi dibus maka pegalnya jadi dua kali lipat, mungkin saja.  

Lindsay POV
                Menjadi murid baru adalah hal yang paling tidak menyenangkan. Ini kedua kalinya aku mengalami masa menjadi murid baru. Sebelumnya aku pernah merasakannya ketika harus pindah dari China ke Kanada diusiaku 10 tahun. Aku masih berdiri didepan pintu, tepat disamping Joonmyeon sunbae yang sedang berbicara dengan sonsaengnim tentang keterlambatanku. Lelaki bernama Park Chanyeol tadi sudah masuk lewat pintu belakang begitu Joonmyeon sunbae sibuk berbicara dengan sonsaengnim, ia mengambil kesempatan agar tidak terkena omelan sonsaengnim, itulah perkiraanku.
“ Arraseo, mari masuk Lindsay-ssi “ ujar sonsaengnim. Aku membungkuk kecil pada sonsaengnim.
“ Gamsahamnida sunbae “ ucapku sebelum masuk kedalam kelas.
“ Ne “ sahutnya.
“ Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan dirimu “ aku mengangguk. Menarik nafas pelan dan mengedarkan pandanganku pada wajah-wajah teman-teman sekelas baruku.
“ Annyeong haseo, choneun Lindsay Lee imnida “ ucapku. “ Manaso bangapta “.
“ Dialeknya tidak seperti orang Korea “.
“ Ne, apa dia dari luar negeri ?” celoteh mereka.
“ Ne, Lindsay Lee ini murid pindahan dari Kanada “.
“ Ohhh !!!” mereka hanya ber’oh’ ria menanggapinya.
“ Lindsay-ssi, kamu bisa duduk disebelah Seo Nayoung “ seorang gadis berkuncir mengangkat tangannya agar aku bisa mengenalinya. Aku mengangguk pada sonsaengnim dan berjalan menghampiri teman sebangkuku. Mataku menangkap cengiran dari lelaki yang tidak asing, lelaki yang baru saja kukenal pagi ini Park Chanyeol. Ia duduk dibarisan yang sama denganku. Diurutan paling belakang dekat pinggir. Dan tampaknya ia tidak memiliki teman duduk.
“ Annyeong “ sapa gadis dengan name tag Seo Nayoung itu padaku.
“ Ne, annyeong Nayoung-ssi “.
“ Aigoo.. jangan terlalu formal, panggil saja aku Nayoung-ah, karena kita sebangku maka kita teman “ ia mengulurkan tangannya. Hari ini sudah dua orang yang mengulurkan tangannya padaku.
“ Ne, chingu-ieo “ sambutku dengan senyuman.  Setidaknya hari pertamaku tidak sepenuhnya buruk, ditolong presiden sekolah dan mendapatkan teman sebangku yang ramah seperti Nayoung. Dan satu lagi, aku menolehkan kepalaku kebelakang. Namja bernama Park Chanyeol itu tengah berkutat dengan pensil ditangannya. Entah apa yang didapatnya dari memainkan pensil seperti anak kecil begitu. 

tbc... 

No comments:

Post a Comment